Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 25 Desember 2016

Media Sosial sebagai Sarana Kampanye Pilkada 2017

Media sosial telah menjadi  bagian penting dari penyebaran informasi di Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Semua informasi dapat dengan mudah disampaikan dan diterima dengan waktu yang sangat cepat.

                Di negara Indonesia menurut lembaga riset pasar e-Marketer,  populasi netter Tanah Air mencapai  83,7 juta orang pada 2014. Hal tersebut tentu dimanfaatkan oleh hampir semua partai politik yang ada di Indonesia untuk mendapatkan lebih banyak suara pada pemilu dengan cara berkampanye secara kreatif dengan menggunakan media sosial dan sasaranya adalah para netizen muda di indonesia.

Media sosial atau sosial media adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Pendapat lain mengatakan bahwa media sosial adalah media online yang mendukung interaksi sosial dan media sosial menggunakan teknologi berbasis web yang mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif.

            Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”.

            Dari berbagai jenis sosial media, Blog dan Jejaring sosial adalah sosial media yang paling sering digunakan. Jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Contoh Jejaring sosial antara lain Facebook, Myspace, dan Twitter.

Para pemilih muda Indonesia ini sudah terbiasa dengan teknologi terutama internet, dengan lebih dari 80 persen pengguna internet di Indonesia akan berusia di bawah 35 tahun. Yang lebih penting lagi dalam pilkada kali ini, 90 persen lalu lintas internet di Indonesia akan terjadi di situs sosial media, sementara 6 persen hanya digunakan untuk mengakses berita politik dan informasi lainnya.

                Semua pandangan masyarakat indonesia sekarang tertuju pada Pilkada DKI dimana ada 3 pasangan calon yang maju dalam pemilihan terebut, yaitu : nomor urut 1 ada Agus-Sylvi,  nomor urut 2 ada Ahok-Djarot, dan nomor urut 3 ada Anies-Sandi. Hampir semua perhatian tertuju pada pilkada DKI Jakarta karena DKI Jakarta adalah Ibu kota negara Indonesia dan menjadi sebuah pusat perkembangan ekonomi, budaya dan politik.

                Dengan mudahnya akses internet dan banyaknya media sosial pada saat ini, tentu sangatlah bermanfaat bagi kita para pemilih muda dan partai politik yang mengusung  para calon tersebut. Untuk kita media sosial digunakan untuk mendapatkan informasi para calon gubernur yang maju. Sedangkan untuk pasangan calon adalah berfungsi sebagai pencari pemilih pemula dan sarana kampamnye.

                Namun sangat disayangkan jika kita melihat media sosial saat ini, banyak oknum-oknum tidak bertanggung jawab yang sengaja melakukan black campaign (kampanye gelap) dengan cara menyebarkan informasi-informasi yang menjatuhkan pasangan lawan dan bersifsat provokatif dengan menggunakjan isu SARA ( Suku Agama Ras dan Antar golongan).

                Yang menjadi masalah menurut saya adalah ketika ada oknum yang menyebarkan berita tidak benar tentang pasangan lawan dan tanpa sumber,  kemudian disebarkan di media sosial. Ditambah lagi dengan adanya pengguna internet yang langsung menelan informasi tersebut tanpa mencari penjelasan terlebih dahulu, kemudian disebar luaskan dan memicu terjadinya perpecahan dan saling menghina antara pendukung pasangan calon gubernur.  Hal tersebut cukup menggangu saya pribadi sebagai pengguna internet dan secara tidak langsung  menodai pesta demokrasi yang hanya dilaksanakan setiap 5 tahun sekali .

                Saran saya sebagai pengguna internet yang cukup aktif adalah kita sebagai generasi muda harus menjadi smart user dalam menggunakan media sosial. Harus bisa memilih mana informasi yang benar dan yang tidak. Jangan asal menerima informasi secara mentah dan menelanya. Dan tetap menjujung tinggi Pancasila sebgai dasar negara kita. Dan apabila pemilihan sudah selesai, bagi para pendukung yang calon pasanganya kalah harus bisa menerima kekalahan dan saling membantu untuk mengawasi  jalanya pemerintahan.

sumber :