Media sosial telah
menjadi bagian penting dari penyebaran informasi di Indonesia selama
beberapa tahun terakhir. Semua informasi dapat dengan mudah disampaikan dan
diterima dengan waktu yang sangat cepat.
Di
negara Indonesia menurut lembaga riset pasar e-Marketer, populasi netter Tanah
Air mencapai 83,7 juta orang pada 2014. Hal tersebut tentu
dimanfaatkan oleh hampir semua partai politik yang ada di Indonesia untuk
mendapatkan lebih banyak suara pada pemilu dengan cara berkampanye secara
kreatif dengan menggunakan media sosial dan sasaranya adalah para netizen muda
di indonesia.
Media sosial atau sosial media adalah sebuah
media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi
dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia
virtual. Pendapat lain mengatakan bahwa media sosial adalah media online yang
mendukung interaksi sosial dan media sosial menggunakan teknologi berbasis web
yang mengubah komunikasi menjadi dialog interaktif.
Menurut Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content”.
Dari berbagai jenis sosial media, Blog dan Jejaring sosial adalah sosial media yang paling sering digunakan. Jejaring sosial merupakan situs dimana setiap orang bisa membuat web page pribadi, kemudian terhubung dengan teman-teman untuk berbagi informasi dan berkomunikasi. Contoh Jejaring sosial antara lain Facebook, Myspace, dan Twitter.
Para pemilih muda
Indonesia ini sudah terbiasa dengan teknologi terutama internet, dengan lebih
dari 80 persen pengguna internet di Indonesia akan berusia di bawah 35 tahun.
Yang lebih penting lagi dalam pilkada kali ini, 90 persen lalu lintas internet
di Indonesia akan terjadi di situs sosial media, sementara 6 persen hanya
digunakan untuk mengakses berita politik dan informasi lainnya.
Semua
pandangan masyarakat indonesia sekarang tertuju pada Pilkada DKI dimana ada 3
pasangan calon yang maju dalam pemilihan terebut, yaitu : nomor urut 1 ada
Agus-Sylvi, nomor urut 2 ada Ahok-Djarot, dan nomor urut 3 ada
Anies-Sandi. Hampir semua perhatian tertuju pada pilkada DKI Jakarta karena DKI
Jakarta adalah Ibu kota negara Indonesia dan menjadi sebuah pusat perkembangan
ekonomi, budaya dan politik.
Dengan
mudahnya akses internet dan banyaknya media sosial pada saat ini, tentu
sangatlah bermanfaat bagi kita para pemilih muda dan partai politik yang
mengusung para calon tersebut. Untuk kita media sosial digunakan
untuk mendapatkan informasi para calon gubernur yang maju. Sedangkan untuk
pasangan calon adalah berfungsi sebagai pencari pemilih pemula dan sarana
kampamnye.
Namun
sangat disayangkan jika kita melihat media sosial saat ini, banyak oknum-oknum
tidak bertanggung jawab yang sengaja melakukan black campaign (kampanye
gelap) dengan cara menyebarkan informasi-informasi yang menjatuhkan pasangan
lawan dan bersifsat provokatif dengan menggunakjan isu SARA ( Suku Agama Ras
dan Antar golongan).
Yang
menjadi masalah menurut saya adalah ketika ada oknum yang menyebarkan berita
tidak benar tentang pasangan lawan dan tanpa sumber, kemudian
disebarkan di media sosial. Ditambah lagi dengan adanya pengguna internet yang
langsung menelan informasi tersebut tanpa mencari penjelasan terlebih dahulu,
kemudian disebar luaskan dan memicu terjadinya perpecahan dan saling menghina
antara pendukung pasangan calon gubernur. Hal tersebut cukup
menggangu saya pribadi sebagai pengguna internet dan secara tidak langsung menodai
pesta demokrasi yang hanya dilaksanakan setiap 5 tahun sekali .
Saran
saya sebagai pengguna internet yang cukup aktif adalah kita sebagai generasi
muda harus menjadi smart user dalam menggunakan media sosial.
Harus bisa memilih mana informasi yang benar dan yang tidak. Jangan asal
menerima informasi secara mentah dan menelanya. Dan tetap menjujung tinggi
Pancasila sebgai dasar negara kita. Dan apabila pemilihan sudah selesai, bagi
para pendukung yang calon pasanganya kalah harus bisa menerima kekalahan dan
saling membantu untuk mengawasi jalanya pemerintahan.
sumber :